Opini

Demokrasi dan Budaya Masyarakat Sumbawa Barat Tantangan Pemilu ke Depan

Demokrasi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) selalu memiliki dinamika yang unik karena berkelindan erat dengan tatanan budaya lokal. Sebagai daerah yang kaya akan nilai-nilai luhur, pelaksanaan pesta demokrasi, seperti Pemilu dan Pilkada di KSB tidak hanya menjadi panggung kontestasi politik, tetapi juga menjadi ujian bagi ketahanan adat dan persaudaraan masyarakat.

Berikut adalah analisis mendalam mengenai bagaimana budaya lokal Sumbawa Barat yang berinteraksi dengan sistem demokrasi modern serta tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemilu.


Akar Budaya KSB dan Relevansinya dengan Demokrasi


Masyarakat Sumbawa Barat hidup dalam falsafah adat yang kuat, salah satunya adalah prinsip "Saling Selesek, Saling Sading, Saling Pedi, Saling Sakiki" yang mengandung makna Saling Peduli, Saling Merasakan, Saling Mengasihi, dan Saling Tolong. 


Nilai-nilai ini mengajarkan pentingnya menjaga harmonisasi sosial dan kebersamaan di atas kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan. Dalam konteks demokrasi, falsafah tersebut ini memiliki dua sisi yang saling melengkapi.


Pertama, sisi Positif sebagai kekuatan sosial. Menjadi modal sosial untuk menciptakan pemilu dan pilkada yang damai, minim konflik fisik, dan mengutamakan penyelesaian masalah lewat musyawarah dan mufakat.


Kedua, sebagai Tantangan. Keterikatan emosional dan kekerabatan yang terlalu kuat di antara masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat terkadang mengaburkan penilaian objektif terhadap visi, misi dan kapasitas calon pemimpin.


Tantangan Pemilu dalam Bingkai Budaya Lokal
Pelaksanaan pemilu di Sumbawa Barat menghadapi sejumlah tantangan sosiokultural yang khas, di antaranya sebagai berikut:


1. Polarisasi Kekerabatan (Kelele)
Struktur masyarakat KSB masih sangat menghargai hubungan kekeluargaan yang erat. Ketika beberapa calon yang maju dalam pemilu legislatif berasal dari lingkaran keluarga atau wilayah desa yang sama, masyarakat sering kali terjebak dalam dilema moral. Praktik Politik berbasis kekerabatan atau pengelompokan berbasis kedekatan geografis (Kelele) berpotensi memicu keretakan hubungan sosial pasca-pemilu jika tidak disikapi dengan strategi yang matang dan bijak.


2. Tantangan Money Politics Berkedok Kearifan Lokal
Salah satu tantangan terbesar adalah kaburnya batasan antara politik uang (money politics) dengan tradisi saling membantu (saling tulung). Praktik pemberian materi oleh kandidat sering kali dibungkus dengan narasi "bantuan adat " atau "sedekah", dimana hal tersebut merupakan tradisi masyarakat yang secara kultural sulit ditolak oleh masyarakat karena sifat pekerti timbal balik yang tertanam di KSB.


3. Netralitas Tokoh Adat dan Agama
Tokoh adat (Sandro atau sesepuh) dan tokoh agama memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mengarahkan suara masyarakat untuk memilih salah satu calon. Tantangan ini muncul ketika para figur sentral ini terseret ke dalam politik praktis, sehingga fungsi mereka sebagai penengah dan pemersatu umat atau masyarakat adat menjadi melemah.


4. Arus Informasi dan Netizen KSB
Transformasi digital mengubah pola kampanye para calon di KSB. Media sosial kini menjadi arena baru tempat budaya kritik bertemu dengan budaya santun, misalnya media sosial facebook, Instagram, dan WhatsApp Group. Tantangannya adalah meredam penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi merusak nilai Saling Sading (saling menjaga perasaan) di ruang digital.


Strategi Menghadapi Tantangan
Untuk mewujudkan pemilu yang berkualitas tanpa mencederai tatanan budaya Sumbawa Barat, diperlukan beberapa langkah strategis.


Pertama, Edukasi Politik Berbasis Kultur. Penyelenggara pemilu, yaitu KPU dan Bawaslu, perlu menggunakan Bahasa daerah dan nilai lokal untuk mengampanyekan pemilu bersih dan berintegritas yang sesuai dengan asas pemilu.


Kedua, Optimalisasi Peran Lembaga Adat. Menjadikan lembaga adat sebagai benteng netralitas yang bertugas meredam konflik sosiopolitik di tingkat akar rumput.


Ketiga, Penguatan Literasi Digital. Mengajak masyarakat golongan tua, pemuda, dan generasi milenial KSB untuk menjaga kesantunan budaya Pariri Lema Bariri (membangun dengan semangat gotong royong) di media sosial selama masa pemilu.

 

Kesimpulan
Demokrasi di Sumbawa Barat akan berjalan ideal jika instrumen politik modern dapat berjalan selaras dengan kearifan lokal. Tantangan pemilu yang ada bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk mendewasakan masyarakat dalam berpolitik. Dengan tetap berpegang pada filosofi persaudaraan sejati, masyarakat Sumbawa Barat dapat membuktikan bahwa kontestasi politik tidak seharusnya merusak fondasi budaya yang telah dirawat selama berabad-abad di wilayah Sumbawa Barat.
 

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 132 kali
🔊 Putar Suara