Pemilih Perempuan Partisipatif Saat Perempuan Memilih dengan Kesadaran, Demokrasi Menjadi Lebih Hidup
Pemilih Perempuan Partisipatif "Saat Perempuan Memilih dengan Kesadaran, Demokrasi Menjadi Lebih Hidup"
oleh: Herman Jayadi, S.AP
Ketua KPU Kabupaten Sumbawa Barat
Pemilu bukan sekadar urusan kotak suara dan tinta di jari. Di balik surat suara yang dicoblos, terdapat harapan tentang masa depan keluarga, pendidikan anak, harga kebutuhan pokok, hingga rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Dan separuh dari pemegang harapan itu adalah perempuan.
Sayangnya, suara perempuan masih kerap dianggap sebagai suara yang hanya mengikuti pilihan orang lain. Ada yang memilih karena arahan pasangan, karena tokoh yang dihormati memberikan pilihan tertentu, atau karena tergiur pemberian menjelang hari pemungutan suara. Padahal, ketika perempuan menentukan pilihan secara sadar dan mandiri, dampaknya akan dirasakan langsung oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Pemilih perempuan yang partisipatif merupakan salah satu kunci penting bagi terwujudnya perubahan yang nyata dalam kehidupan masyarakat.
Perempuan yang partisipatif tidak hanya bertanya, "Siapa yang paling terkenal?", tetapi juga mempertimbangkan, "Siapa yang memiliki program yang jelas untuk mengatasi stunting, melindungi perempuan dan anak dari kekerasan, serta meningkatkan akses pendidikan?" Ia tidak mudah tergoda oleh imbalan sesaat, karena memahami bahwa nilai sebuah suara jauh lebih besar daripada manfaat yang hanya dirasakan dalam waktu singkat.
Data menunjukkan bahwa jumlah pemilih perempuan di Indonesia hampir mencapai setengah dari keseluruhan pemilih. Ini merupakan kekuatan politik yang sangat besar. Jika pemilih perempuan menggunakan hak pilihnya berdasarkan program, kapasitas, dan rekam jejak calon, bukan karena tekanan ataupun iming-iming materi, maka praktik politik uang akan kehilangan pengaruhnya. Kandidat yang hanya mengandalkan pemberian sesaat akan ditinggalkan, sementara mereka yang menawarkan gagasan dan solusi akan memperoleh kepercayaan masyarakat.
Namun, jalan menuju kondisi tersebut tidak selalu mudah. Budaya patriarki masih membuat sebagian perempuan merasa bahwa politik adalah urusan laki-laki. Di sisi lain, akses terhadap informasi politik yang berkualitas juga belum merata, terutama di wilayah pedesaan. Belum lagi adanya tekanan atau pengaruh dari lingkungan terdekat yang dapat membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan pilihannya.
Karena itu, pendidikan politik bagi perempuan perlu terus diperkuat. Tidak harus melalui forum-forum resmi yang terkesan berat, tetapi dapat dilakukan melalui ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kegiatan PKK, arisan, kelompok nelayan, komunitas perempuan, maupun media sosial. Ketika perempuan mulai berdiskusi tentang program dan visi calon, bukan hanya persoalan kebutuhan sehari-hari, maka pada saat itulah partisipasi politik sedang tumbuh.
Menjadi pemilih perempuan yang partisipatif tidak berarti harus menjadi aktivis atau terjun langsung ke dunia politik. Langkah sederhana seperti mencari informasi, berdiskusi, menggunakan hak pilih di TPS, dan menolak politik uang merupakan bentuk partisipasi yang sangat berarti. Sebab, ketika perempuan memilih dengan pertimbangan yang matang dan kepedulian terhadap masa depan, yang sedang ditentukan bukan hanya pemimpin, melainkan juga masa depan generasi berikutnya.
Maka, ketika masih ada anggapan bahwa perempuan cukup berperan di rumah, jawabannya sederhana: rumah adalah bagian dari negara. Dan negara yang baik berawal dari keluarga yang sadar akan pentingnya demokrasi dan partisipasi politik.